Welcome

Rasulullah bersabda; "Apabila kalian menginginkan kasih sayang dari Allah dan Rasul Nya maka sampaikanlah amanat, jujurlah dalam berbicara, dan berbuat baiklah kepada orang yang menjadi tetangga kalian." (HR. Tabrani)

Selasa, 14 Juni 2011

Benarkah Salafy itu Teroris

Penulis: Asy Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam


Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Muhammad rasul yang terpercaya –shallallahu ‘alaihi wa salam-.

Amma ba’du;

Pertanyaan ini kami sampaikan kepada yang terhormat Syaikh kami, bapak kami yang berjiwa pembimbing dan penasehat, pengasuh Ma’had Darul Hadits Ma’bar, Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin Abdillah Al-Imam. Semoga Allah Ta’ala menjaga dan melindungi beliau, semoga Allah Ta’ala memperbanyak orang-orang yang semisal beliau, dan semoga Allah Ta’ala melimpahkan barakah pada beliau dan ilmu beliau.

Pertanyaan:

Telah tersebar isu di tengah-tengah masyarakat Indonesia bahwa para pelajar Indonesia yang lulus dari ma’had-ma’had Darul Hadits di Yaman berubah menjadi pelaku pengeboman dan peledakan (terorisme).

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Ta’ala dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Ta’ala semata tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Ta’ala.

Merupakan sesuatu yang seharusnya untuk diketahui adalah orang yang pertama kali memperingatkan dan mengecam dengan keras perbuatan pengeboman dan peledakan (terorisme) adalah Imam Ahlus Sunnah negeri Yaman yaitu Guru kami Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i –semoga Allah Ta’ala merahmati beliau-. Sungguh, para pengikut organisasi Al-Qa’idah telah menyusun rencana untuk melakukan peledakan dan pengeboman di beberapa tempat di beberapa propinsi di Yaman. Namun, ketika Syaikh kami (Muqbil bin Hadi) angkat suara membongkar rencana jahat mereka tersebut, gagallah rencana tersebut dan selamatlah negeri Yaman dari rencana jahat mereka. Dan Syaikh (Muqbil bin Hadi) terus melanjutkan kecamannya dan memperingatkan masyarakat dalam khutbah, ceramah dan karya tulis beliau dari gerakan Jama’ah Jihad dan dari bergabung serta berjalan bersama mereka. Segala puji hanya milik Allah Ta’ala semata.

Para ulama yang telah direkomendasikan oleh Syaikh Muqbil untuk kita merujuk kepada mereka berjalan mengikuti jejak Syaikh Muqbil dalam mengecam dan memperingatkan dari penyeru pengeboman dan peledakan dalam pelajaranpelajaran dan karya tulis mereka. Upaya ini juga ditempuh para pengasuh ma’hadma’had1 Darul Hadits di Yaman sebagaimana jalan yang ditempuh oleh ulama sunnah di manapun mereka berada. Ini adalah perkara yang sudah diketahui dan dikenal dari mereka di Yaman dan selain Yaman. Dan segala puji bagi Allah Ta’ala.

Para pelajar yang menimba ilmu di hadapan ulama negeri Yaman di ma’hadma’had Darul Hadits juga berjalan pada jalan yang ditempuh oleh para ulama. Oleh karena itu, menuduh para pelajar tersebut di atas dengan mengatakan “mereka itu pelaku pengeboman dan peledakan” merupakan kedustaan atas diri mereka untuk memperburuk citra mereka dan menghindarkan orang dari mereka dan dari dakwah yang mereka serukan.
Akan tetapi begitu cepat kedustaan ini termentahkan ketika para pelajar tersebut memberikan khutbah atau ceramah atau mengajar dan memperingatkan dari perbuatan pengeboman dan peledakan.

Maka pengamatan negara (pemerintah) akan hakekat (fakta) ini yang ada pada ma’had-ma’had Darul Hadits di Yaman dan juga hakekat (fakta) para pelajar yang lulus dari ma’had-ma’had tersebut adalah perkara yang penting.

Seyogyanya bagi kedutaan Indonesia untuk meyampaikan kepada negaranya informasi yang benar tentang ma’had-ma’had tersebut. Berperannya pemerintah Indonesia sebagai pihak yang bahu-membahu menyebarkan kebaikan (dakwah berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang dilakukan oleh para alumni ma’had-ma’had Darul Hadits Yaman lebih baik dari pada menentang dan menghalangi mereka. Karena apa yang kami serukan adalah demi kebaikan setiap muslim, entah yang sebagai pemegang kepemerintahan ataupun rakyatnya. Karena kami menyeru kepada perbaikan hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya (Allah Ta’ala). Kalau dia bisa baik maka baginya balasan yang baik dan jika dia memilih kejelekan maka jangan mencela kecuali dirinya.

Dakwah kita adalah dakwah yang mengarah pada perbaikan dan mengajak kepada kebaikan dengan cara-cara yang syar’i bukan dengan cara-cara yang diadaadakan seperti pembentukan kelompok-kelompok atau dengan cara pemberontakan dan penggulingan, ataupun dengan cara pengeboman dan peledakan.

Maka sudah seyogyanya bagi negara-negara islam untuk berkhidmat memperjuangkan islam, dan kami akan ikut bahu-membahu dengan mereka dalam susah dan kemudahan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.

Stempel dan Tanda Tangan
Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam
20/02/1431H

http://www.assalafy.org/mahad/?p=534#more-534

Diterjemahkan oleh:
Abu Zubair ‘Umar Al-Indunisy
Dan Abu Hudzaifah Rahmadi Al-Indunisy
Darul Hadits, Ma’bar, Yaman

1. Ma’had-ma’had para ulama tersebut diantaranya: Ma’had Darul Hadits Dammaj, Ma’had Darul Hadits Ma’bar, Ma’had Darul Hadits Dzammar, Ma’had Darul Hadits Fiyusy – Aden, Ma’had Darul Hadits Hadramaut, Ma’had Darul Hadits Ibb, Ma’had Darul Hadits Syibwah dan lain-lain.

http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/05/05/74/

sumber: http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=83

Berikut ini kami sajikan versi arabnya:


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على محمد رسول أمين، أما بعد

هذا السؤال نقدمه لفضيلة شيخنا ووالدنا المربي الناصح القائم بدار الحديث بمعبر الشيخ العلامة محمد بن عبد الله الإمام حفظه الله تعالى ورعاه وكثر الله أمثاله وبارك الله فيه وفي علمه

السؤال

انتشرت الإشاعة في أوسط المجتمع الإندونيسيا بأن الطلاب الإندونيسيين الذين تخرجوا من دور الحديث في اليمن يصبحون ويقومون بعملية التفجير والتلغيم

الجواب

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

فينبغي أن يعلم أن أول من حذر من التفجيرات والتلغيمات هو إمام أهل السنة في اليمن شيخنا العلامة الوادعي رحمه الله تعالى، فقد كان أصحاب تنظيم القاعدة عملوا خطة ليفجروا في كثير من المحافظات اليمنية، فلما تكلم عليهم الشيخ وفضح سعيهم هذا فشلت الخطة وسلمت البلاد اليمنية من تلك الأحداث، واستمر شيخنا يحذر من جماعات الجهاد ومن الدخول معهم والسير سيرهم في خطبه ومحاضراته وكتبه والحمد لله. وصار المشائخ الذين أوصى الشيخ بالرجوع إليهم على ما كان عليه الشيخ من التحذير من دعاة التفجيرات والتلغيمات في دروسهم ومؤلفاتهم وغيرها، فهذا الذي يسير عليه القائمون على دور الحديث في اليمن كما هو سير علماء السنة حيثما كانوا، وهذا معلوم مشهور عنهم في اليمن وفي غيرها والحمد لله

والطلاب الذين يتلقون العلم على أيدي علماء اليمن في دور الحديث هم على هذا الذي عليهم العلماء، فرمي الطلاب المذكورين بأنهم من أصحاب التلغيمات والتفجيرات كذب عليهم للتشويه بهم والتنفير عنهم وعن الدعوة التي يدعون إليها، ولكن سرعان ما يفتضح هذا الكذب عند ما يخطب الطلاب هؤلاء أو يحاضرون أو يدرسون ويحذرون من التفجيرات والتلغيمات

فاطلاع الدولة على هذه الحقيقة التي عليها دور الحديث في اليمن والطلاب المتخرجون منها مهم، وعلى السفارة الإندونيسية أن تواصل دولتها بالمعلومات الصحيحة عن هذه الدور، فلأن تكون الدولة الإندونيسية معينا على هذا الخير الذي يقوم به الطلاب المتخرجون من دور الحديث في اليمن خير من محاربته لأن ما ندعو إليه هو من صالح كل مسلم كان حاكما أو محكوما، لأننا ندعو إلى إصلاح ما بين العبد وربه فإن أحسن فله جزاء الحسنى وإن أساء فلا يلومن إلا نفسه، فدعوتنا دعوة إصلاح ودعوة خير بالطرق الشرعية لا بالطرق البدعية كالتحزب والثورات والانقلابات والتفجيرات والتلغيمات

فعلى الدول الإسلامية أن تقوم بخدمتها للإسلام ونحن عون لها في الشدة والرخاء ولا حول ولا قوة إلا بالله

darussalaf.or.id

Mencari Sahabat

Ketika dirimu dilaputi permasalahan,
berdoalah kepada Allah.
Mohonlah perunjuk dari-Nya, 
dan tetaplah berikhtiar untuk mengiringi doa itu 

dan jangan ragu untuk meminta petuah dan nasihat dari sahabatmu
sesungguhnya sahabat yang baik itu bisa membantu dalam segala hal
bisa menjadi guru, teman, Orang Tua bahkan lebih dari itu
Sahabat yang baik selalu mengerti, memahami, 
dan bisa memberikan jalan keluar dari masalah itu


Bagi dirimu yang Memiliki sahabat 
Teruslah berbuat baik kepada mereka
Jangan buat ia kecewa
Segera memohon maaf bila kita bersalah 
dan memaafkan kesalahannya


Seorang manusia bisa dinilai dari siapa teman bergaul nya
Bila berteman dengan orang sholeh maka kebaikan
Jika berteman dengan orang salah maka lambat laun kita akan menjadi buruk
Maka dari itu, 
KITA HARUS MEMPERHATIKAN SIAPA TEMAN DI SEKITAR KITA

Rabu, 08 Juni 2011

Sudahkah Kita Bermuhasabah

Penulis : Abu Mushlih 

Meneliti, mengoreksi dan mengawasi gerak-gerik hati adalah perkara yang sangat penting. Karena hati merupakan sumber dan poros amalan. Melalaikan urusan hati berakibat rusaknya amalan. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus senantiasa mengintrospeksi diri sebelum dan sesudah melakukan amalan. Siapa tahu ada cacat dan penyakit yang tersembunyi di dalam amalnya, sementara dia tidak menyadarinya? al-Hasan rahimahullah berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti mencermati keinginan hatinya -sebelum melakukan sesuatu-. Apabila niatnya untuk Allah maka dia akan teruskan, namun apabila untuk selain-Nya maka akan dia tunda -sampai niatnya benar-.” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 111)

Muhasabah adalah sebuah kewajiban. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang sudah dipersiapkan olehnya untuk hari esok/negeri akherat.” (QS. al-Hasyr: 18). Allah ta'ala mengingatkan kita bahwa semestinya setiap kita melihat amalan apa yang telah disiapkan olehnya untuk menghadapi hari kiamat kelak, apakah amal salih yang menyelamatkan dirinya ataukah justru keburukan/dosa-dosa yang akan mencelakakan dirinya. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan, bahwa Qatadah rahimahullah berkata, “Rabb kalian senantiasa mengesankan dekatnya hari kiamat sampai-sampai Allah menjadikannya seperti seolah-olah ia akan terjadi besok.” Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa baiknya hati akan terwujud dengan senantiasa mengintrospeksi diri, dan rusaknya hati akan terjadi tatkala kita lalai untuk mengawasi gerak-geriknya dan membiarkannya berjalan begitu saja mengikuti keinginan-keinginannya (lihat al-Ighatsah, hal. 114)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu, Umar berpesan, “Hisablah diri kalian sebelum kelak kalian akan dihisab -di hari kiamat-. Timbanglah amal-amal kalian sebelum kelak -amal- kalian ditimbang. Karena hal itu akan lebih ringan di timbangan kalian esok -di akherat- dengan kalian menghisab diri kalian pada hari ini -di dunia-. Dan hiasilah diri kalian -dengan takwa- untuk menyambut hari persidangan yang besar, yang pada hari itu kalian akan disidang dan tiada satu perkarapun yang tersembunyi dari kalian.” (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 106)

Menyembuhkan hati yang kerapkali terbius oleh bujukan untuk berbuat maksiat dan tenggelam dalam dosa-dosa adalah dengan menjalani dua buah terapi ini; yaitu dengan bermuhasabah/introspeksi diri dan menyelisihi keinginan hawa nafsu terhadap hal-hal yang diharamkan. Sesungguhnya hati akan menjadi binasa akibat kelalaian untuk mengintrospeksinya dan memperturutkan hawa nafsu (lihat al-Ighatsah, hal. 106)

Salah satu kiat untuk membantu seorang hamba dalam mengintrospeksi dirinya adalah hendaknya dia memahami bahwa setiap kali dia bersungguh-sungguh dalam bermuhasabah di dunia ini niscaya di akherat kelak hisab yang akan dialaminya akan menjadi lebih ringan. Sebagaimana pula apabila dia melalaikan muhasabah ini ketika di dunia maka di akherat dia akan mengalami hisab yang lebih berat (al-Ighatsah, hal. 110). Muhasabah juga akan semakin terasa mudah tatkala dia menyadari bahwa sesungguhnya laba dari 'perdagangan' ini adalah mendapatkan 'kapling' di surga Firdaus dan merasakan nikmatnya memandangi wajah Allah ta'ala. Adapun kerugian yang akan dirasakan olehnya ketika tidak menjalankan perdagangan ini dengan baik ialah masuk ke dalam neraka dan terhalangi dari memandang wajah Allah ta'ala. Apabila perkara-perkara ini telah tertanam kuat di dalam hatinya niscaya melakukan muhasabah ketika di dunia akan terasa ringan (al-Ighatsah, hal. 110)

Ada dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan, yaitu untuk siapa dan bagaimana caranya. Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Adapun pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang komitmen untuk mengikuti tuntunan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Demi Rabbmu, sungguh Kami akan menanyai mereka semuanya tentang apa saja yang mereka amalkan.” (QS. al-Hijr: 92-93). Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), “Maka benar-benar Kami akan menanyai orang-orang yang rasul itu diutus kepada mereka dan Kami juga pasti akan menanyai para utusan itu, maka akan Kami kisahkan kepada mereka dengan penuh pengetahuan dan tidaklah Kami tidak menyaksikan -apa yang telah mereka lakukan-.” (QS. al-A'raaf: 6-7) (lihat al-Ighatsah, hal. 113).

Allah ta'ala juga berfirman (yang artinya), “Supaya Allah menanyai orang-orang yang jujur itu mengenai kejujuran mereka.” (QS. al-Ahzab: 8). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kalau orang-orang yang jujur saja ditanyai dan dihisab mengenai kejujuran mereka maka bagaimanakah lagi dengan para pendusta?” Yang dimaksud dengan 'orang-orang jujur' dalam ayat ini adalah para rasul dan orang-orang yang menyampaikan ajaran rasul itu kepada kaumnya, apakah mereka telah menyampaikan dengan sebagaimana mestinya. Kemudian Allah juga akan menanyai masyarakat yang menjadi sasaran dakwah para rasul itu. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Dan pada hari itu Allah memanggil mereka dan berkata; 'Apa yang sudah kalian penuhi dari ajakan para rasul itu?'.” (QS. al-Qashash: 65) (lihat al-Ighatsah, hal. 113).

Nikmat yang telah Allah curahkan kepada kita -yang jumlahnya sedemikian banyak dan kita tak bisa menghingganya-, itupun akan ditanyakan, apakah kita sudah mensyukurinya dengan baik di jalan Allah ta'ala. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Kemudian kalian benar-benar akan ditanyai mengenai nikmat yang telah diberikan itu.” (QS. at-Takatsur: 8). Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan bahwa Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap hamba tentang nikmat dan kewajiban dari-Nya yang dititipkan kepada dirinya.” (lihat al-Ighatsah, hal. 114).

Pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya dari kita. Laporan pertanggung jawaban manakah yang lebih berat daripada laporan mengenai urusan pendengaran, penglihatan, dan gerak-gerik hati? Laporan manakah yang lebih berat daripada laporan yang ditujukan kepada Rabb semesta alam Yang di tangan-Nya segala urusan Yang menguasai pada hari pembalasan Yang tidak tersembunyi darinya satu perkara pun? Aduhai, betapa malangnya nasib kita jika dosa-dosa kita tidak diampuni oleh-Nya... Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa': 36).

Sudahkah kita bermuhasabah? Mudah-mudahan kita tidak menjadi seperti orang yang disindir dalam sebuah ungkapan, “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” Coba, bandingkan keadaan diri kita dengan para salafus shalih, betapa jauhnya antara sikap kita dengan sikap mereka? Sebagian ulama berkata, “Orang yang berakal adalah yang mengenali jati dirinya sendiri dan tidak tertipu oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti seluk-beluk -kekurangan- dirinya.” (dinukil dari Ma'alim fi Thariq Thalab al-'Ilm, hal. 118).


http://www.facebook.com/#!/?page=1&sk=messages&tid=1585929496267